PELALAWAN (tvOnline24.news) – Penertiban pelaku perambahan yang mengalih fungsikan hutan kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) scara ilegal, dilaksanakan oleh Satuan Tugas (Satgas) Penertiban Kawasan Hutan (PKH), menjadi ricuh.

Pasalnya, muncul tiga nama sebagai aktor provokator yang menyerukan atas nama masyarakat untuk melancarkan kepentingan pribadinya dan kelompok tertentu, dengan cara menyampaikan informasi distortif yang memicu warga dikawasan tersebut tidak patuh.

Tiga aktor itu bukan warga setempat. Mereka yang disebut menjadi dalang dalam pengusiran Satgas-PKH, yaitu Andriko Butar-Butar, Sianturi (Mantan anggota TNI) dan Antonius Sinaga (Si Naga Mata Satu).

Ketiganya diduga kuat menghasut dan mengorganisir massa agar melakukan perlawanan terhadap Satgas-PKH yang menertibkan kawan hutan TNTN.

Belasan anggota Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan terpaksa mundur dari lokasi, setelah aksi provokasi yang digerakkan oleh tiga orang tersebut. Massa menghadang petugas yang menertibkan kawasan TNTN.

“Ihwalnya Satgas PKH melakukan penertiban dan penebangan kebun sawit ilegal milik Rudianto Sihombing alias Pablo di dalam kawasan TNTN itu. Mendapat penolakan dari sekelompok orang yang datang mengadang petugas. Merasa kalah, kelompok tersebut sempat mundur,” kata sumber Informasi.

Namun tidak lama kemudian, Si Naga Mata Satu diduga menggelar orasi provokatif menggunakan TOA di pasar, menyerukan agar masyarakat mengusir Satgas PKH dari kawasan tersebut. Aksi ini diduga kuat menjadi pemicu utama yang membuat massa semakin tidak patuh.

Warga yang terlibat dalam pengusiran Satgas-PKH tersebut, sebagian besar bukanlah penduduk asli Dusun VI Medang Raya Lestari, melainkan didatangkan dan diarahkan oleh ketiga aktor provokator tersebut.

Dilansir wartarakyat online, juru bicara Lembaga Adat Negeri (LAN) Muhammadun, sangat kecewa terjadinya insiden itu. Ia menegaskan pentingnya negara tidak tunduk pada tekanan sekelompok massa yang tidak patuh.

“Negara boleh mengalah, tapi jangan kalah oleh pembangkang dan perambah hutan TNTN,” ujarnya.

Namun sehingga saat ini, belum ada tindakan tegas dari aparat penegak hukum terhadap para provokator yang memanfaatkan konflik ini. Sementara itu, kondisi di TNTN masih belum kondusif dan rawan terjadi bentrokan, apabila tidak segera diambil langkah pengamanan yang tegas dan terukur.

 

 

 

 

(Edt/BM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *